Temenan Sama Mantan Pacar ? Ini Pendapat Para Psikolog

2.103

Sudah Putus Tapi Masih Temenan Sama Mantan Pacar ? Ini Pendapat Ahli Kejiwaan.

Mengapa kita terkadang masih ingin menjalin pertemanan dengan mantan pacar kita? Ada banyak alasan yang menyebabkan kita ingin temenan dengan mantan, namun menurut sebuah penelitian terbaru mengenai ‘Perbedaan Kepribadian antar Individu’ menyebutkan bahwa ada beberapa jenis kepribadian yang memang terkait dengan motivasi seseorang tetap temenan sama mantan pacar walau sudah putus.

Perkenalkan Justin Mogilski dan Lisa Welling. Kedua peneliti yang berasal dari Oakland University, Amerika Serikat ini, menguji 348 relawan untuk memikirkan alasan bagi mereka untuk tetap bersahabat dengan mantan pacar walau hubungan mereka telah kandas.

Dari percobaan ini, terdapat 153 hal yang menjadi alasan seseorang tetap berteman dengan mantan pacar.

Percobaan ini melibatkan mereka yang setidaknya pernah mengalami putus hubungan setidaknya sekali. Mereka disuruh menilai ke 153 alasan untuk tetap temenan sama mantan pacar menurut seberapa pentingnya alasan tersebut. Mereka diminta menilai alasan tersebut dengan nilai dari satu hingga lima.

Setelah itu mereka diminta menyelesaikan kuisioner mengenai kepribadian mereka, diantaranya kecenderungan mereka untuk berbohong, mengalami emosi negatif saat dalam keadaan tertekan, antagonisme (bersikap agresif dan arogan) serta sifat mencari sensasi.

Temenan Sama Mantan Pacar
Sayangkah kamu sama mantan kamu? – Foto oleh Pexels

 

Berdasarkan dari kuisioner dan penilaian tersebut, Mogliski dan Welling mengelompokan alasan mengapa seseorang memilih berteman dengan mantan pacar mereka menjadi tujuh kategori :

  1. Bisa diandalkan / Alasan Sentimental (Contoh : “Mantan pacar mereka membuat mereka menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya”)
  2. Pragmatisme (Contoh : “Mantan pacar mereka kaya / mapan”)
  3. Masih adanya ketertarikan kepada mantan pacar (Contoh : “Masih ada rasa terhadap mantan pacar”)
  4. Pembagian Aset atau Anak (Contoh : “Mantan pacar saya hamil atau saya memiliki tabungan bersama mantan pacar saya”)
  5. Hilangnya aspek seksual diantara kedua pasangan (Contoh : “Saya tidak lagi memiliki minat secara seksual kepada mantan pacar saya”)
  6. Mempertahankan ikatan sosial (Contoh : “Saya dan Mantan pacar saya berada dalam satu lingkaran pertemanan sehingga tidak menginginkan kecanggungan terjadi saat ada acara kumpul bersama”)
  7. Akses Seksual (Contoh : “Saya masih sering berhubungan seks bersama dengan mantan pacar saya”)

 

Dari ketujuh kategori tersebut, Bisa diandalkannya seorang mantan pacar atau alasan sentimental dianggap sebagai alasan terpenting mengapa seseorang tetap berteman dengan mantan pacarnya.

Sedangkan alasan seperti pragmatisme dan akses seksual berada diurutan bawah sebagai alasan seseorang temenan sama mantan pacar mereka.

Reaksi pria dan wanita mengenai pertemanan dengan mantan pacar ternyata cukup berbeda.

Para peserta tes yang notabene pria memberikan nilai lebih tinggi terhadap akses seksual dan pragmatisme dibandingkan nilai yang diberikan oleh peserta tes wanita.

Namun perbedaan nilai yang diberikan oleh peserta pria dan wanita tidaklah terlalu beda jauh sehingga bisa diasumsikan bahwa pria dan wanita cenderung memberikan alasan yang sama mengapa mereka memilih untuk tetap temenan sama mantan pacar mereka.

Sedangkan bagi pria dan wanita yang memiliki skor antagonisme dan ekstroversi tinggi memberikan nilai tinggi terhadap pentingnya akses seksual sebagai alasan mengapa mereka tetap menjalin persahabatan dengan mantan pacar.

Kemudian, bagi mereka yang cenderung merasakan emosi negatif dalam keadaan tertekan menempatkan alasan sentimental sebagai alasan utama mereka memilih untuk berteman dengan mantan pacar mereka. Disusul dengan alasan bahwa masih ada ketertarikan romantik diantara diri mereka dengan mantan pacar mereka.

Diperkirakan hal ini terjadi karena mereka cenderung mengalami dampak psikologis yang lebih besar dibandingkan yang dialami mantan pacar mereka saat mereka memutuskan hubungan mereka.

Dengan begitu, penelitian mencentuskan bahwa tetap menjalin pertemanan setelah putus memberikan mereka kenyamanan untuk segera pulih dari dampak psikologis yang sebelumnya mereka rasakan.

Temenan Sama Mantan Pacar
Banyak pasangan yang sudah bercerai mengaku masih berteman dengan mantan suami atau istri mereka – Foto oleh Pexels

Penelitian lain menunjukkan bahwa persahabatan antara seseorang yang telah cerai bisa dibilang umum. Dilaporkan lebih dari setengah pasangan yang telah cerai lebih dari dua hingga sepuluh tahun mengaku masih berteman baik dengan mantan pasangan mereka.

Penelitian terbaru ini memperkirakan alasan mengapa seseorang tetap temenan sama mantan pacar atau pasangan adalah sebagai bentuk bagi kedua mantan pasangan ini untuk bertukar sesuatu yang mereka butuhkan. Baik itu berupa perhatian, status, informasi bahkan uang.

Bagaimanapun juga ada beberapa batasan terhadap studi ini. Dimana usia rata – rata para peserta adalah 21,4 tahun.

Mereka yang berusia 21 tahun biasanya memiliki pengalaman terbatas dalam hal percintaan yang bisa mempengaruhi keputusan mereka dalam menindak lanjuti kegagalan hubungan asmara mereka.

Oleh karena itu diharapkan penelitian selanjutnya berfokus mengenai keuntungan dan motif dari hubungan pertemanan sebuah pasangan yang sebelumnya menemui jalan buntu.

Bagaimana dengan mengundang mantan pacar ke pernikahan kamu?

Temenan Sama Mantan Pacar
Greget! Mantan datang ke pernikahan – Foto oleh Pexels

 

Terkadang kita sering dihadapkan dengan keputusan untuk mengundang atau tidak mantan pacar ke acara pernikahan kamu dengan calon istrimu atau suamimu.

“Nah alasan kenapa kita jarang mengundang mantan kita ke pernikahan mungkin disebabkan oleh masalah yang sebelumnya menyebabkan kita putus belum sepenuhnya selesai” Ujar Sri Juwita Kusumawardhani MPsi.

Sri Juwita Kusumawardhani MPsi atau yang akrab disapa dengan nama Wita adalah seorang psikolog generasi ketiga.

“Kan sebenarnya yang dikhawatirkan adalah kalau mantan datang ke pernikahan itu akan mengacaukan acara pernikahan kita atau nggak. Tentunya kita perlu dengan bijak menimbang apakah si mantan ini akan mengacaukan atau tidak sih,” sambung Wita seperti yang dilansir Detik.com.

Menurut Wita, keputusan untuk mengundang mantan pacar kepernikahanmu sebaiknya dirundingkan dengan calon pasangan agar tidak terjadi hal – hal yang tidak diinginkan.

“Misalkan nih kita pacaran 7 tahun terus putus, setelah 1 tahun kita ketemu sama calon suami kita sampai nikah. Terus dia ngerasa ‘duh nggak deh, kamu kan lama banget pacaran sama dia, kayaknya aku masih kalah lah walaupun aku berhasil nikahin kamu’. Jadi ngerasa tetap jadi saingan utama,” papar Wita.

Namun jika kondisi sebaliknya terjadi, dimana kamu yang diundang oleh mantan pacar untuk hadir keacara pernikahannya mantan, maka Wita menyarankan anda untuk tidak datang sendirian kesana.

“Tanyakan sama diri sendiri, kita udah siap atau nggak. Siapa tahu si pasangan mantan kita itu jadinya insecure juga sama kita. Jadi kita tunjukkan juga lah, kita bukan pihak yang perlu dicurigai. Intinya utamakan perasaan diri sendiri dulu baru perasaan orang lain,” ujar Wita.

Nah itu dia pendapat psikolog mengenai hubungan persahabatan dengan mantan pacar. Baik atau tidaknya hubungan pertemanan tersebut kembali lagi kepada kematangan seseorang terhadap hubungan mereka sebelumnya.

Artikel lainnya yang mungkin menarik untuk teman – teman diary sehat baca

Anak Muda, Jangan Lupa Menyeimbangkan Hidup dan Pekerjaan Demi Kebahagiaanmu

You might also like More from author

Comments